slider

Recent

Navigation

6 Daerah dan 13 Kabupaten Kota Ikuti BSF 2019

BANJARMASIN – Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) yang saban tahun digelar Pemko Banjarmasin, di tahun 2019 ini tampil lebih heboh.
Selain agenda kegiatan sangat beragam, tiga belas kabupaten kota di Kalsel juga ikut terlibat langsung dalam kegiatan yang dijadwalkan masuk agenda pariwisata nasional tahun 2020 itu.
Bahkan, beberapa daerah di Indonesia juga terlihat ikut meramaikan acara yang dibuka langsung Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina, Wakil Walikota Banjarmasin H Hermansyah, Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj Siti Wasilah, dan Wakil Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj Siti Fatimah, seperti Mojokerto, Banyuwangi, Banten, Lampung, Malang, dan Kutai Kartanegara. “Pada kesempatan yang baik ini Banjarmasin Sasirangan Festival kita gelar kembali dalam rangka mengangkat harkat dan martabat kain sasirangan sehingga menjadi salah satu kain yang dikenal, baik skala nasional maupun internasional,” ujar H Ibnu Sina, Rabu (06/03).



Dijelaskannya lagi, di tahun 2020 nanti, minimal ada tiga kegiatan pariwisata tingkat Provinsi Kalsel yang masuk dalam agenda pariwisata tingkat nasional, salah satunya adalah BSF. “Kami ingin BSF menjadi agenda kegiatan pariwisata nasional tahun 2020 nanti. Kami akan menyampaikan secara resmi Kekementerian Pariwisata. Dan tahun depan minimal ada 3 event pariwisata tingkat provinsi Kalimantan Selatan yang menjadi agenda di tingkat nasional, mudah mudahan Banjarmasin Festival Sasirangan juga masuk di dalamnya,” harapnya.
Keinginan Pemko Banjarmasin untuk menjadikan BSF masuk event nasional memang tidak main-main. 
Beragam persiapan dilakukan, termasuk setting tata letak panggung yang mengambil lokasi di atas Sungai Martapura persis di depan Menara Pandang.
Panggung di atas sungai ini, belum pernah ada di Indonesia. Jadi bisa dikatakan, BSF tahun 2019 ini merupakan pembuktian bahwa Pemko Banjarmasin dan Dekranasda Kota Banjarmasin, sangat serius menggarap event yang diharapkan dapat mengangkat budaya serta kearifan lokal Bumi Kayuh Baimbai.
Panggung dari kapal tongkang itu dibuat seperti berbentuk letter T. Satu panggung digunakan sebagai tempat untuk kegiatan utaa, satu panggungnya lagi diperuntukan bagi para penonton.
Uniknya lagi, penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan dari atas kapal tongkang, terlebih dahulu harus naik kapal kelotok untuk dapat mencapai panggung tersebut. Hal ini sengaja dilakukan sebagai bagian untuk mengangkat ciri khas kota seribu sungai. “Ini merupakan karakteristik kota sungai, The River City, yang menghadirkan sensasi berwisata berbeda dengan wisata-wisata lainya. Kalau Presiden sudah menetapkan 10 Bali baru dan semuanya berbasis pantai dan gunung, maka Kota Banjarmasin mengajukan diri sebagai Bali ke 11 dengan wisata berbasis sungai,” kata H Ibnu Sina.



Nah, masyarakat yang tidak kebagian duduk di atas panggung tersebut, mereka kemudian melihat beragam suguhan atraksi BSF dengan duduk atau berdiri di pelataran siring Menara Pandang.
Tat ayal, sepanjang kawasan Siring Menara Pandang pun menjadi hiruk pikuk dengan lautan manusia yang ingin menyaksikan event tahunan tersebut. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai mewarnai setiap atraksi yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut, seperti fashion show pakaian motif sasirangan yang diperagakan model professional, tarian daerah, dan atraksi kembang api yang tiba-tiba muncul dari atap Siring Menara Pandang.
Yang tak kalah hebohnya saat penyanyi ibukota Cakra Khan tampil menyanyikan tembang-tembang pilihan. Dari beberapa buah lagu yang dinyanyikannya bersama penonton, salah satunya berjudul ampar-ampar pisang.
Sekda Provinsi Kalsel Abdul Haris Makkie dalam acara tersebut mengatakan, kain sasirangan merupakan aset budaya Kalimantan Selatan yang tidak ada duanya, sehingga upaya melestarikan budaya ini sangat baik, demi kelangsungan para pengrajin kain sasirangan dan budaya Kalimantan Selatan. “Kain sasirangan merupakan kain adat Suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun menurun sejak abad ke 12. Kain ini merupakan ciri khas yang membedakan Kalimantan Selatan dari daerah lain,” katanya.
Saat ini, ucap mantan Kabiro Humas Setda Provinsi Kalsel lagi, usaha membudayakan pemakaian kain sasirangan dilingkungan pemerintah daerah sudah dilakukan dengan cara menjadikannya pakaian wajib digunakan pada hari hari tertentu. “Kain sasirangan sendiri telah mengalami perkembangan corak dan motif, namun pesan saya, motif dasar kain sasirangnan harus tetap dijaga dan harus diperkenalkan,” tuturnya.



Sebelum dilaksanakan pembukaan BSF, kegiatan diawali dengan expo BSF yang melibatkan sekira 40 orang pengrajin sasirangan asli kota berjuluk seribu sungai.
Menurut Hj Siti Wasilah, tahun 2019 ini kegiatan BSF mengangkat tema Harmoni Warna-Warni Budaya Nusantara. 
Ia beharap, dengan keterlibatan semua unsur, maka kegiatan BSF ini dapat lebih dikenal masyarakat tak hanya tingkat nasional tetapi juga hingga manca negara. “Tahun ini merupakan event yang ketiga kalinya. Dan harapannya, event ini akan menjadi sarana kita bersama sama warga Kota Banjarmasin bahkan Kalimantan Selatan, untuk terus menggaungkan kain sasirangan diantara kain-kain nusantara, sehingga bisa sejajar dan bahkan bisa Go To The World,” katanya.
Walikota Banjamasin H Ibnu Sina dalam kesempatan tersebut menambahkan, kegiatan expo itu merupakan sarana promosi untuk misi perdagangan dan jasa, sebaimana dikenal orang Kota Banjarmasin adalah kota perdagangan dan jasa serta ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan salah satu kota Metropolitan di Indonesia, yang menjadi tempat transitnya barang dan jasa, baik melalui jalur sungai maupun melalui pelabuhan dan jalur yang lainya.
copyright by facebook humpro-bjm
Share
Banner

Agung Jaya

Post A Comment:

0 comments: